Senator ARK Demands Tangible UN Accountability for the Environment and Justice
- account_circle Athor
- calendar_month Ming, 18 Okt 2026
- visibility 6

SENATOR AGUSTINUS R. KAMBUAYA,
FORM PAPUA INDONESIA
AN APPEAL TO THE SECRETARY-GENERAL OF THE UNITED NATIONS
Welcome to Indonesia, Your Excellency
Your Excellency, Mr. Secretary-General,
On behalf of those who cherish our forests, our environment, and the future of humanity, I extend a warm welcome to you on your visit to Indonesia. Your presence in our country is a great honor and an important opportunity to strengthen our shared commitment to protecting our planet.
Yet, alongside our pride in welcoming you, we are deeply concerned by the smoke and devastating heat associated with forest fires that threaten our environment and the health of our people. Whether caused by natural conditions or human activities, including those driven by short-term economic interests, these fires remind us of the urgent need to protect our forests and hold those responsible for environmental destruction accountable.
Your Excellency has rightly warned the world that the climate crisis has reached a critical stage, declaring that the Earth has moved from an era of global warming into an era of global boiling.
These words are a powerful reminder that the time for expressions of concern must now be accompanied by decisive and measurable action.
Millions of people around the world look to the United Nations not only as a symbol of international solidarity, but also as an institution capable of mobilizing collective action in the face of humanity’s greatest challenges.
Although the Kyoto Protocol and the Paris Agreement represent important milestones in international climate cooperation, the continued destruction of forests demonstrates that existing commitments and mechanisms have not yet delivered the level of protection our planet urgently requires.
With the greatest respect for the United Nations and its Member States, I therefore wish to propose several considerations for strengthening global environmental governance.
First, the international community should consider establishing a stronger international mechanism to investigate and ensure accountability for serious environmental crimes, particularly those involving large-scale deforestation, the destruction of critical ecosystems, and activities that contribute significantly to the climate crisis.
Second, the United Nations and its Member States should explore more effective international measures to discourage economic activities associated with deforestation. Where appropriate and consistent with international law, these measures could include trade restrictions on products demonstrably linked to illegal deforestation and serious environmental harm.
Third, greater international cooperation is needed to ensure that economic development does not come at the expense of ecological sustainability, public health, and the rights of future generations. Governments, businesses, and financial institutions must share responsibility for ensuring that economic progress is compatible with the protection of our common home.
Your Excellency,
The challenge before us is not simply a matter of environmental policy. It is a question of global responsibility, economic justice, and the moral obligation we share toward future generations.
No country can overcome this crisis alone. Nor can voluntary commitments and diplomatic declarations, however important, succeed without effective implementation, transparent accountability, and the political will to confront powerful interests when they undermine the common good.
The credibility of the United Nations will be strengthened when its principles are matched by tangible results in the lives of the people it serves.
We do not make this appeal to diminish the United Nations, but because we believe in its indispensable role in building a more peaceful, just, and sustainable world. We call upon the Organization to demonstrate that multilateral cooperation can rise to meet the urgency of the climate crisis.
Your visit to Indonesia offers an opportunity to send a powerful message to the world: that the protection of forests, the prevention of environmental destruction, and the pursuit of climate justice are shared international responsibilities that demand more than words.
Your Excellency, history will remember not only the commitments the international community has made, but also the actions it has taken when humanity’s future was at stake.
May the United Nations continue to be a source of hope—not merely through its declarations, but through its courage to advance meaningful solutions and its determination to protect our planet for generations to come.
With the highest respect and sincere hope for meaningful international action,
An Appeal from Indonesia, for Humanity and Our Common Planet. terjemahkan
Berikut adalah terjemahan lengkap dari surat terbuka dan seruan tersebut ke dalam bahasa Indonesia:
SENATOR AGUSTINUS R. KAMBUAYA,
FORM PAPUA INDONESIA
SEBUAH SERUAN KEPADA SEKRETARIS JENDERAL PERSERIKATAN BANGSA-BANGSA
Selamat datang di Indonesia, Yang Mulia
Yang Mulia Bapak Sekretaris Jenderal,
Atas nama mereka yang mencintai hutan, lingkungan, dan masa depan umat manusia, saya menyampaikan sambutan hangat atas kunjungan Anda ke Indonesia. Kehadiran Anda di negara kami merupakan suatu kehormatan besar dan kesempatan penting untuk memperkuat komitmen bersama kita dalam melindungi bumi kita.
Namun, di samping kebanggaan kami dalam menyambut Anda, kami sangat prihatin dengan asap dan panas dahsyat yang terkait dengan kebakaran hutan yang mengancam lingkungan dan kesehatan rakyat kami. Baik disebabkan oleh kondisi alam maupun aktivitas manusia, termasuk yang didorong oleh kepentingan ekonomi jangka pendek, kebakaran ini mengingatkan kita akan kebutuhan mendesak untuk melindungi hutan kita dan meminta pertanggungjawaban pihak-pihak yang bertanggung jawab atas perusakan lingkungan.
Yang Mulia telah secara tepat memperingatkan dunia bahwa krisis iklim telah mencapai tahap kritis, dengan menyatakan bahwa bumi telah bergeser dari era pemanasan global ke era pendidihan global (global boiling).
Kata-kata ini merupakan pengingat kuat bahwa waktu untuk menyatakan keprihatinan kini harus disertai dengan tindakan yang tegas dan terukur.
Jutaan orang di seluruh dunia memandang Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) bukan hanya sebagai simbol solidaritas internasional, tetapi juga sebagai institusi yang mampu memobilisasi aksi kolektif dalam menghadapi tantangan terbesar umat manusia.
Meskipun Protokol Kyoto dan Perjanjian Paris mewakili tonggak penting dalam kerja sama iklim internasional, perusakan hutan yang terus berlanjut menunjukkan bahwa komitmen dan mekanisme yang ada belum memberikan tingkat perlindungan yang sangat dibutuhkan oleh planet kita.
Dengan rasa hormat yang sebesar-besarnya kepada PBB dan Negara-negara Anggotanya, oleh karena itu saya ingin mengusulkan beberapa pertimbangan untuk memperkuat tata kelola lingkungan global:
• Pertama: Masyarakat internasional harus mempertimbangkan untuk membentuk mekanisme internasional yang lebih kuat guna menyelidiki dan memastikan akuntabilitas atas kejahatan lingkungan yang serius, terutama yang melibatkan deforestasi berskala besar, perusakan ekosistem penting, dan kegiatan yang berkontribusi secara signifikan terhadap krisis iklim.
• Kedua: PBB dan Negara-negara Anggotanya harus menjajaki langkah-langkah internasional yang lebih efektif untuk mencegah kegiatan ekonomi yang berkaitan dengan deforestasi. Jika sesuai dan konsisten dengan hukum internasional, langkah-langkah ini dapat mencakup pembatasan perdagangan pada produk-produk yang terbukti terkait dengan deforestasi ilegal dan kerusakan lingkungan yang serius.
• Ketiga: Kerja sama internasional yang lebih besar diperlukan untuk memastikan bahwa pembangunan ekonomi tidak mengorbankan kelestarian ekologi, kesehatan masyarakat, dan hak-hak generasi mendatang. Pemerintah, dunia usaha, dan lembaga keuangan harus berbagi tanggung jawab untuk memastikan bahwa kemajuan ekonomi sejalan dengan perlindungan rumah bersama kita.
Yang Mulia,
Tantangan di hadapan kita bukan sekadar masalah kebijakan lingkungan. Ini adalah pertanyaan tentang tanggung jawab global, keadilan ekonomi, dan kewajiban moral yang kita miliki bersama terhadap generasi mendatang.
Tidak ada negara yang dapat mengatasi krisis ini sendirian. Komitmen sukarela dan deklarasi diplomatik, betapapun pentingnya, tidak akan berhasil tanpa implementasi yang efektif, akuntabilitas yang transparan, dan kemauan politik untuk menghadapi kepentingan kuat ketika mereka merusak kebaikan bersama.
Kredibilitas Perserikatan Bangsa-Bangsa akan semakin kuat apabila prinsip-prinsipnya dibarengi dengan hasil nyata dalam kehidupan masyarakat yang dilayaninya.
Kami menyampaikan seruan ini bukan untuk melemahkan Perserikatan Bangsa-Bangsa, melainkan karena kami percaya akan peran pentingnya dalam membangun dunia yang lebih damai, adil, dan berkelanjutan. Kami menyerukan kepada Organisasi ini untuk menunjukkan bahwa kerja sama multilateral dapat bangkit untuk menghadapi urgensi krisis iklim.
Kunjungan Anda ke Indonesia menawarkan kesempatan untuk mengirimkan pesan kuat kepada dunia: bahwa perlindungan hutan, pencegahan perusakan lingkungan, dan perjuangan untuk keadilan iklim adalah tanggung jawab internasional bersama yang menuntut lebih dari sekadar kata-kata.
Yang Mulia, sejarah akan mengenang bukan hanya komitmen yang telah dibuat oleh masyarakat internasional, tetapi juga tindakan yang telah diambil ketika masa depan umat manusia dipertaruhkan.
Semoga Perserikatan Bangsa-Bangsa terus menjadi sumber harapan—bukan semata-mata melalui deklarasinya, melainkan melalui keberaniannya untuk memajukan solusi yang bermakna dan tekadnya untuk melindungi planet kita bagi generasi mendatang.
Dengan rasa hormat yang setinggi-tingginya dan harapan tulus untuk tindakan internasional yang bermakna,
Sebuah Seruan dari Indonesia, untuk Kemanusiaan dan Planet Bersama Kita.
Jika Anda memerlukan penyesuaian pada gaya bahasa, ringkasan, atau terjemahan untuk dokumen lainnya, silakan beri tahu saya.
- Penulis: Athor
